Lombok Barat, NTB – Upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional terus digalakkan di tingkat akar rumput. Di wilayah hukum Polsek Lembar, Polres Lombok Barat, kolaborasi antara aparat kepolisian dan kelompok tani menjadi kunci suksesnya distribusi hasil bumi guna memenuhi cadangan pangan negara. Langkah nyata ini terlihat dalam pendampingan intensif yang dilakukan oleh personil Bhabinkamtibmas dalam memastikan hasil panen petani lokal terserap secara optimal oleh Badan Urusan Logistik (Bulog).
Pendampingan Distribusi Jagung Poktan Karya Baru
Pada Sabtu, 18 April 2026, suasana di Dusun Pelan, Desa Mareje, Kecamatan Lembar, tampak lebih sibuk dari biasanya. Aipda Ishak, selaku Bhabinkamtibmas Desa Mareje, turun langsung ke lapangan untuk memantau dan mendorong proses distribusi hasil panen jagung milik Kelompok Tani (Poktan) Karya Baru. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mendukung penuh Program Ketahanan Pangan Nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 6,160 ton jagung hasil jerih payah petani setempat diberangkatkan menuju Gudang Bulog BGR Pagutan, Kota Mataram. Pengangkutan komoditas unggulan ini dilakukan dengan menggunakan satu unit truk bernomor polisi DR 8610 AC yang dikemudikan oleh Andi. Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah petani bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan moral dan teknis agar proses niaga hasil tani berjalan lancar tanpa kendala administratif maupun logistik.
Komitmen Polsek Lembar Dukung Ketahanan Pangan
Kapolres Lombok Barat, Polda NTB, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Lembar, Ipda Ruslan, S.H., menegaskan bahwa peran kepolisian saat ini sangat krusial dalam menjaga stabilitas pangan. Menurutnya, Bhabinkamtibmas memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa para petani tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga memiliki akses yang jelas ke pasar formal seperti Bulog.
“Kami terus mendorong para petani maupun Kelompok Tani di wilayah Lembar untuk aktif mendistribusikan hasil panen mereka ke gudang negara. Kehadiran Aipda Ishak di Desa Mareje adalah representasi kehadiran negara dalam memastikan mata rantai distribusi pangan dari desa menuju gudang Bulog berjalan aman dan transparan,” ujar Ipda Ruslan, S.H. dalam keterangan resminya.
Ipda Ruslan juga menambahkan bahwa sinergi antara Poktan dan kepolisian bertujuan untuk memitigasi hambatan yang mungkin ditemui petani di lapangan. Dengan pengawalan yang baik, diharapkan kesejahteraan petani meningkat seiring dengan terserapnya hasil panen oleh pemerintah dengan harga yang kompetitif.
Standar Ketat Penerimaan Komoditas di Gudang Bulog
Meskipun distribusi berjalan lancar, para petani diimbau untuk tetap memperhatikan standar kualitas yang telah ditetapkan oleh Bulog. Hal ini sangat penting agar produk yang dikirimkan tidak mengalami penolakan saat tiba di Gudang BGR Pagutan. Aipda Ishak dalam sosialisasinya kepada anggota Poktan Karya Baru senantiasa mengingatkan detail teknis mengenai kriteria jagung yang layak terima.
Berdasarkan regulasi yang berlaku, terdapat beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pertama, jagung harus dalam bentuk pipilan yang bersih dari kotoran atau sisa tongkol. Kedua, aspek krusial yang sering menjadi kendala adalah kadar air; Bulog menetapkan batas maksimal kadar air sebesar 14%. Jika melampaui angka tersebut, maka komoditas akan langsung dikembalikan atau ditolak demi menjaga kualitas penyimpanan jangka panjang.
Selain itu, pengemasan juga menjadi perhatian serius. Jagung wajib sudah dikarungkan dengan berat isi minimal 70,30 kilogram per karung. Secara administratif, petani pemilik jagung juga diwajibkan mendaftarkan diri ke Kantor Bulog dengan melengkapi dokumen pendukung seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Buku Rekening BRI untuk proses pembayaran nontunai, serta Kartu Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
Dampak Positif bagi Ekonomi Desa Mareje
Keberhasilan Saudara Nurman dari Poktan Karya Baru dalam mengirimkan lebih dari 6 ton jagung ini menjadi motivasi bagi petani lain di Desa Mareje. Dengan terpenuhinya standar kualitas dan kelengkapan administrasi, kepastian serapan pasar menjadi lebih terjamin. Hal ini secara langsung berdampak pada perputaran ekonomi di Kecamatan Lembar, khususnya dalam sektor agrobisnis.
Program pendampingan oleh Bhabinkamtibmas ini diharapkan dapat terus berlanjut secara berkelanjutan. Tidak hanya pada komoditas jagung, tetapi juga pada sektor pangan lainnya. Dengan adanya koordinasi yang solid antara petani, Polri, dan Bulog, kedaulatan pangan nasional yang dimulai dari desa bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.






