Mataram – Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Barat menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan era digital melalui penyelenggaraan Webinar “Generasi AI Nusantara” yang mengusung tema “Guru Adaptif, Murid Kreatif; Smart Kelola Keuangan Keluarga; Bhayangkari Berliterasi Keuangan”. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi peran perempuan, khususnya Bhayangkari, agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus cakap dalam pengelolaan ekonomi keluarga.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 tahun 2026, yang menjadi momentum penguatan kontribusi Bhayangkari di bidang pendidikan dan pemberdayaan keluarga.
Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo, menegaskan bahwa integrasi literasi kecerdasan buatan (AI) dan literasi keuangan merupakan kebutuhan mendesak di tengah perubahan global yang cepat.
“Bhayangkari tidak boleh tertinggal. Kita harus mampu memahami perkembangan teknologi, sekaligus memastikan keluarga memiliki ketahanan ekonomi yang kuat,” ujarnya di hadapan sekitar 1300 peserta, Rabu ( 8/4 ).
Ia juga mengingatkan bahwa kecerdasan buatan ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, AI dapat menjadi pendukung utama dalam dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Namun di sisi lain, pemanfaatan yang tidak tepat justru berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas dan keharmonisan keluarga.
“AI bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat, tetapi jika disalahgunakan, justru dapat menghancurkan kehidupan keluarga. Di sinilah pentingnya literasi dan pengawasan,” tegasnya.
Peserta webinar berasal dari 162 ranting/polsek dan 10 cabang/polres se-NTB, dengan masing-masing kepengurusan mengirimkan 7 hingga 20 peserta. Mereka mengikuti kegiatan secara daring maupun luring yang dipusatkan di Gedung Rupatama Polda NTB.
Ia menilai, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi unggul. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas anggota Bhayangkari dalam dua aspek tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap kualitas generasi muda, khususnya di lingkungan keluarga besar Polri.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang mengupas isu dari perspektif berbeda namun saling melengkapi. Susan Novita menyoroti pentingnya peran pendidik yang adaptif dalam menghadapi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital dan AI.
Menurutnya, guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi, melainkan harus mampu menjadi fasilitator yang mendorong kreativitas dan daya pikir kritis peserta didik. “Generasi saat ini bukan hanya pengguna teknologi, tetapi calon inovator. Di sinilah peran guru dan orang tua menjadi sangat penting,” katanya.
Webinar turut dihadiri oleh para pendidik di lingkungan YKB NTB yang diharapkan mampu menjadi guru adaptif dengan memanfaatkan AI yang tepat guna.
Sementara itu, Yan Anjas Pratama menekankan urgensi literasi keuangan dalam menjaga stabilitas keluarga. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak keluarga yang belum memiliki perencanaan keuangan yang baik, sehingga rentan terhadap tekanan ekonomi.
“Pengelolaan keuangan keluarga harus dimulai dari hal sederhana, seperti pencatatan pengeluaran, pengendalian konsumsi, hingga pemahaman terhadap produk keuangan yang aman,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap investasi ilegal yang marak di era digital.
Dalam konteks yang lebih luas, Bhayangkari sebagai bagian dari keluarga besar Polri juga didorong untuk mengambil peran strategis sebagai motor penggerak dalam upaya pencegahan maraknya praktik pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) yang kian masif. Fenomena ini dinilai sebagai salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan yang tidak bertanggung jawab.
Melalui peningkatan literasi digital dan keuangan, Bhayangkari diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat, sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menghindari jeratan pinjol ilegal dan praktik judol yang berpotensi merusak stabilitas ekonomi dan sosial keluarga.
Kegiatan ini dipandu oleh Ny. Heny Agus Purwanta yang mampu menjaga dinamika diskusi tetap interaktif dan substantif. Dengan latar belakang akademisi di bidang manajemen sumber daya manusia sektor publik, ia menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, teknologi, dan pengelolaan sumber daya manusia dalam keluarga.
“Ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Antusiasme peserta yang mencapai ribuan orang menjadi indikator bahwa isu yang diangkat memiliki relevansi tinggi. Namun demikian, tantangan ke depan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman, melainkan pada implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Webinar ini sekaligus menandai arah baru Bhayangkari NTB sebagai organisasi yang tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai motor penggerak literasi dan pemberdayaan perempuan di era digital. Dengan pendekatan yang menggabungkan kecerdasan teknologi dan kecakapan finansial, Bhayangkari diharapkan mampu mencetak keluarga yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing di tengah disrupsi zaman






